Berita Forex
Azzahra Alya Nabilah

Azzahra Alya Nabilah


Support OmahForex, memulai trading pada awal tahun 2012

Share

[ssba]

Dana Asing Diperkirakan Masih Akan Masuk, Rupiah Berpeluang Menguat

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di pasar spot valas antar bank Jakarta, Jumat (20/9) diprediksi menguat seiring kembalinya dana asing  ke dalam negeri (capital inflow).  Kurs rupiah masih berpeluang melanjutkan penguatan akhir pekan ini, seiring adanya arus masuk dana asing. 

Jadi,  hot money sudah kembali ke pasar emerging market termasuk Indonesia. Kembalinya capital inflow  setelah The Fed memberikan sinyal bahwa bank sentral AS masih menunggu pertumbuhan ekonomi AS yang lebih solid sebelum menaikkan suku bunga.  Karena itu, rupiah berpeluang mengalami penguatan lebih lanjut ke level Rp 11.050 dan kalaupun melemah sudah terbatas di level 11.350.   The Fed juga menolak untuk mengurangi stimulus (tapering) Quantitative Easing (QE) tahap ketiga tahun ini. 

The Fed juga mengubah acuan pertumbuhan ekonomi dengan melihat secara keseluruhan dari data tenaga kerja AS. Sebelumnya, The Fed hanya menjadikan tingkat pengangguran yang jadi acuan dan mengubahnya dengan melihat kondisi ekonomi secara keseluruhan.  Artinya, selain angka pengangguran, The Fed juga mengacu pada jumlah partisipasi tenaga kerja dan berbagai sisi yang lain seperti peningkatan tenaga kerja di sektor manufaktur dan jasa.  Dengan acuan terbaru ini,   kemungkinan The Fed akan menentukan target tingkat pengangguran turun ke bawah 6,5%.  Intinya, hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC) benar-benar di luar ekspektasi di mana bank sentral tidak memutuskan untuk mengurangi stimulus sehingga mendorong arus capital inflow ke negara emerging market. Untuk jangka pendek,   arus hot money akan kembali ke pasar domestik sehingga rupiah mulai stabil dan pulih. 

Pada saat konferensi pers, secara keseluruhan Gubernur The Fed Ben Bernanke cenderung dovish (pro-moneter longgar) sehingga potensi kenaikan suku bungannya diundur hingga 2016.  Komitmen tingkat suku bunga rendah ini, berakibat pada membaiknya sentimen risk appetite (hasrat pasar pada aset-aset berisiko) termasuk hasrat pada rupiah. Secara terpisah, hasil sidang FOMC The Fed, turut mempengaruhi laju pergerakan rupiah sehingga akhirnya bisa kembali menghijau. 

Perpanjangan stimulus The Fed dan masih bertahannya tingkat suku bunga rendah AS memberikan penilaian bahwa supply dolar AS di pasar masih akan bertambah dan akan membuat dolar AS mengalami pelemahan.  Sentimen ini, juga turut berimbas positif pada laju mata uang Asia lainnya.  Dengan hasil sidang tersebut juga membuat permintaan akan mata uang yang dinilai save haven kian berkurang dan dimanfaatkan pergerakan mata uang Asia yang mencoba rebound. Setelah laju rupiah melewati target resisten 11.455 kemarin, Jumat ini, Reza memperkirakan rupiah bergerak pada kisaran Rp 11.253-11.288 dengan menggunakan acuan kurs tengah Bank Indonesia (BI). Untuk diketahui, kurs rupiah terhadap dolar AS di pasar spot valas antar bank Jakarta, Kamis (19/9) ditutup menguat 183 poin (1,59%) ke posisi Rp 11.277-11.288. Intraday terkuat mencapai Rp  11.195 dan terlemah Rp 11.460 per dolar AS. [geng]

Sumber : Financeroll.co.id

Related Post

© 2010-2015 OmahForex Global Corp. | Rebate (Cashback) Forex.