Berita Forex
Azzahra Alya Nabilah

Azzahra Alya Nabilah


Support OmahForex, memulai trading pada awal tahun 2012

Share

[ssba]

Nantikan Rilis Pertumbuhan Ekonomi AS, Rupiah Diperkirakan Sideways

Nilai tukar  rupiah terhadap dolar AS di pasar spot valas antar bank Jakarta, Selasa (24/9) diprediksi sideways cenderung melemah. Pasar menanti rilis data pertumbuhan ekonomi AS.  Potensi mendatarnya dengan kecenderungan melemah untuk rupiah hari ini, salah satunya karena pasar akan fokus pada data Produk Domestik Bruto (PDB) AS untuk revisi terakhir kuartal II-2013 yang akan dirilis Kamis (26/9). Angkanya diekspektasikan di level 2,5% dari revisi kedua di level yang sama dan publikasi pertama 1,7%.

Sesuai tidaknya dengan ekspektasi akan sangat berpengaruh pada pergerakan dolar AS dan berimbas pada rupiah.  Karena itu, rupiah cenderung sideways melamah dalam kisaran Rp 11.300 hingga Rp 11.500 per dolar AS.  Jika angkanya sesuai ekspektasi atau justru di atas ekspektasi, dolar AS akan semakin kuat dan jadi tekanan negatif  bagi rupiah.  Sebab, jika itu yang terjadi, ekspektasi tapering The Fed akan kembali menjadi santer sehingga untuk menguat ke bawah Rp 11.000, masih sulit bagi rupiah.

Apalagi,   pada pekan keempat ini September ini, masih sedikit isu-isu terbaru dari dalam negeri. Karena itu, fokus pada masih pada mencuatnya kembali isu tapering, jika ada petinggi The Fed yang akan menyampaikan pidato.  Di sisi lain, pekan ini isu geopolitik belum terangkat seperti masalah Suriah yang juga akan memberikan gejolak terhadap pasar.  Dari Suriah, pasar masih menunggu dunia internasional untuk mencapai pembicaraan bilateral terutama antara Suriah dengan AS yang dimotori oleh Rusia.

Pasar ingin melihat, apakah nantinya AS mau menghindari konfrontasi frontal yang tentu mendapatkan restu dari Partai Republik.  Dari dalam negeri, permintaan dolar AS kemungkinan meningkat untuk membayar kewajiban-kewajiban yang jatuh tempo di akhir bulan.  Pasar juga dibayang-bayangi oleh pernyataan dari Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa yang pekan lalu mengatakan, tidak mungkin rupiah bisa mencapai Rp 9.000 per dolar AS.

Pemerintah terlihat tidak memberikan motivasi bagi para investor.  Ini menandakan bahwa pemerintah sudah lepas tangan sehingga sulit bagi rupiah untuk menguat.  Memang, secara logika sulit bagi rupiah untuk menguat ke Rp 9.000 tahun ini.  Tapi, untuk tahun-tahun ke depannya sebenarnya masih ada upaya dari kebijakan-kebijakan yang mungkin masih bisa kondusif untuk memperkuat rupiah.  Asal tahu saja, kurs rupiah terhadap dolar AS di pasar spot valas antar bank Jakarta, Senin (23/9) ditutup melemah 110 poin (0,96%) ke posisi Rp 11.470-11.490. [geng]

Sumber : Financeroll.co.id

Related Post

© 2010-2015 OmahForex Global Corp. | Rebate (Cashback) Forex.